Penjelasan Kemenkes Dan Astrazeneca Soal Kandungan Babi Dalam Vaksin

Penjelasan Kemenkes Dan Astrazeneca Soal Kandungan Babi Dalam Vaksin

Serta vaksin korona dari Tiongkok bagian dari sindikat perdagangan gelap internasional. Meski sempat ramai menjadi pro kontra vaksin Covid-19 produksi Astrazeneca, namun PWNU Jatim menegaskan sikap jika hukum vaksinasi adalah wajib diikuti. Pihaknya juga meyakinkan jika vaksinasi ini suci tidak mengandung babi seperti yang diisukan.

proses tersebut dilakukan dengan menggunakan mesin yang canggih dengan kecepatan produksi hingga puluhan ribu vial dalam satu jam. Pertama, penyiapan vero cell dimana vero cell yang sudah dikembangkan di pabrik yang ada di Changping dibawa dan disiapkan ke pabrik yang ada di Daxing. Berikutnya, inokulasi virus Covid-19 yang dilakukan dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi dan aseptis. Adapun sumber virus berasal dari CDC China sebuah lembaga Kesehatan China. Pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin COVID-19, mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia, baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Foto ANTARA Xinhua/Zhang Yuwei/pras) “Laporan yang diterima sampai saat ini, uji klinis berjalan dengan lancar dan tidak diperoleh laporan efek yang berat. Ajakan ini disampaikan Menag saat menyambut kedatangan vaksin COVID-19 tahap III sebanyak 15 juta dosis di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 12 Januari 2021. Dikutip dari situs resmi LPPOM MUI Pusat, terdapat delapan prosedur persyaratan sertifikasi dari MUI yang mesti dipenuhi oleh sebuah perusahaan. Salah satu dari kedelapan syarat itu adalah perusahaan harus memahami persyaratan sertifikasi halal yang tercantum dalam Halal Assurance System dan mengikuti pelatihan Sistem Jaminan Halal . Setelah itu Tim MUI melaporkan hasil audit kepada Komisi Fatwa MUI Pusat untuk dilakukan kajian keagamaan menentukan kehalalan vaksin.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan asal China, Sinovac halal dan suci. Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia menyatakan Vaksin AstraZeneca mengandung tripsin babi alias haram, namun atas nama kedaruratan tetap bisa digunakan di Indonesia. Ketiga bersentuhan dengan najis mutawasitah, sehingga dihukumi mutanajis, tetapi sudah dilakukan penyucian secara syar’i atau ta’hir syar’i,” katanya.

Di tahap akhir, virus yang dikembangbiakkan dan sudah terpisah dari sel inang juga sudah tidak terdapat kandungan tripsin. Dalam kaitan ini, perbedaan cara pandang di tubuh MUI, antara pusat dan cabang, tentu memberikan pembelajaran menarik dan mendidik bagaimana diskursus teologis dikembangkan sebagai kerangka berpikir yang kritis dan responsif. Setidaknya, dengan perbedaan cara pandang tersebut, ada praktik diskursif dan deliberasi gagasan yang bisa diteladani berbagai lapisan masyarakat dalam menyikapi sebuah kasus hukum. Alasan pertama, pandemi Covid-19 merupakan kondisi darurat sehingga vaksin AstraZeneca boleh digunakan. Kedua, terdapat keterangan ahli tentang adanya risiko bahaya jika tidak segera dilakukan vaksinasi Covid-19. Dikutip dari situs ANTARA, Vaksin Covid-19 dari Sinovac Biotech di Indonesia sedang dalam uji klinis tahap ketiga.

Vaksin Sinovac babi

Pakistan saat ini sedang melakukan uji klinis tahap akhir dari vaksin CanSino Biologics. Sementara Bangladesh sebelumnya memiliki kesepakatan dengan Sinovac Biotech untuk melakukan uji klinis di negara tersebut, tetapi uji coba tersebut telah ditunda karena sengketa pendanaan. Saat mereka berada di China pada musim gugur, para ulama Indonesia memeriksa fasilitas Sinovac Biotech China, dan uji klinis yang melibatkan sekitar 1.620 relawan juga sedang dilakukan di Indonesia untuk mendapatkan vaksin perusahaan. Pemerintah telah mengumumkan beberapa kesepakatan pengadaan vaksin Covid-19 dengan perusahaan sejumlah jutaan dosis.

Comments are closed.